Belajar dari cermin besar sebagai contoh yang layak
untuk di jadikan panutan dalam menjalani keseharian dalam hidup berkelompok. Namun
apa jadinya jika cermin tersebut pecah dan berdebu? Atau bahkan parahnya cermin
itu tinggalah sebuah bingkai kosong yang sebelumnya membungkusnya dengan
indah?. Jika hal tersebut terjadi maka jadilah cerita indah yang penuh dengan
kebahagiaan, betapa gagah dan perkasanya sebuah raga dimasa lalu. Raga yang
melangkah dengan berbagai cara untuk menegakkan huruf Alif yang lurus di puncak
bacaaan kejayaannya.
Setiap waktu yang berubah dan selalu berubah,
bergeser layaknya lempengan bumi yang ketika ia bergerak maka paniklah seluruh
makhluk. Namun yang kurang disadari bahkan oleh gunung-gunung besar yang
menjulang tinggi bahwasannya gerak kulit bumi adalah takdir yang telah di
tentukan Tuhan dan gunung-gunung besar yang menjulang tinggi tersebut mengambil
peran penting dalam kepanikan makhluk lainnya. Namun, mereka kebanyakan tidak
sadar akan hal tersebut, bahwasannya dari merekalah pintu kepanikan itu
terjadi. Letusan gunung yang marah, aliran lava panas yang menangis dan
asap-asap panas dari kesombongan dan keangkuhannya telah menjadi takdir, tapi
dirinya malah mencipir mereka yang panik.
Gambaran ini adalah salah satu dari banyaknya kisah
yang tak mungkin untuk diceritakan kepada generasi baru yang masih polos. Cukup
menjadi sejarah betapa besarnya cermin tersebut dan betapa buruknya perilaku
gunung-gunung besar tersebut. Biarlah para makhluk mati dalam kepanikannya
dikarenakan Hukum Alam, biarlah arwahnya bergentayangan dalam mimpi kemarin
yang berselimut keputus asaan. Tugas dari tunas-tunas baru adalah belajar,
belajar dan belajar unuk menjadi tumbuhan yang hijau dan menjadikan tanah-tanah
yang tertutup abu dari malapetaka kesombongan menjadi bagian surga kecil yang
indah. Surga yang diharapkan menempati kejayaannya sampai dunia ini dalam
artinya yang sesungguhya benar-benar berakhir.
Belajarlah dari sejarah dan janganlah mengulang
sejarah sehingga menjadi fenomena De Javu bagi kalian yang menjadi penerus dari
bangsa yang musnah. Biarlah cermin tersebut pecah dan tertinggal hanyalah
bingkainya tetapi paling tidak belajar dari bingkai tersebut. Tanyakan kepadanya
mengapa sampai sang cermin pecah? Apakah sang gunung besar tersebut sudah
sangat gagah? Janganlah tiru kembali kejadian yang memiluhkan tersebut,
putuslah mata rantai keterbelakangan tersebut, sambung dengan kisah baru yang
punya dinamika yang dewasa dan luas, bukan menjadi dinamika yang payah dan
sempit, dinamika yang menyempitkan ruang gerak dalam berfikir. Jadilah yang
lebih dahsyat suara Alif nya, sehingga ia lurus tegak sampai ke surga.
Perlakukan anak tangga yang lebih atas dengan
langkah yang baik, agar tidak jatuh. Sungguh anak tangga yang diatas tersebut
tidaklah meminta dihargai oleh anak tangga dibawahnya dan bukan pula ingin
dilihat. Namun tinggalkanlah anak tangga yang angkuh dengan posisi sejarah yang
menjadi kartu keberuntungan awal dibandingkan dengan akhir. Bukan, bukan dan
jangan berbuat seperti itu serta hindarilah. Jadilah diri sendiri walau
bercermin dibanyak wajah yang unik-unik. Sesungguhnya yang bercermin hanyalah
satu dan tidak dapat menjadi dua.
Hanyalah orang-orang yang mengerti akan jalan hidup
dari sebuah kegelisahan yang telah terjadi dan berjalan kedepan, tak dapat
ditahan walau masuk dalam barisan karena jika ditahanpun akan banyak
bayangan-bayangan mimpi yang menyerupai suara sumbang angin topan yang meniup
telingan dan menggoyahkan hati dan memutuskan asah. Hal tersebut akan berimbas
pula pada tiap rel yang berderatan rapi sehingga rel-rel tersebut akan
bercerai-berai dan membuas barisan-barisan sendiri. Jika hal tersebut terjadi,
munculah episode terakhir dari Alif yang tak lurus dan berganti dan kata
Wassalam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar