Selasa, 28 November 2017

Alif Bercermin di Balik Gunung Besar Yang Kerdil



Belajar dari cermin besar sebagai contoh yang layak untuk di jadikan panutan dalam menjalani keseharian dalam hidup berkelompok. Namun apa jadinya jika cermin tersebut pecah dan berdebu? Atau bahkan parahnya cermin itu tinggalah sebuah bingkai kosong yang sebelumnya membungkusnya dengan indah?. Jika hal tersebut terjadi maka jadilah cerita indah yang penuh dengan kebahagiaan, betapa gagah dan perkasanya sebuah raga dimasa lalu. Raga yang melangkah dengan berbagai cara untuk menegakkan huruf Alif yang lurus di puncak bacaaan kejayaannya.
Setiap waktu yang berubah dan selalu berubah, bergeser layaknya lempengan bumi yang ketika ia bergerak maka paniklah seluruh makhluk. Namun yang kurang disadari bahkan oleh gunung-gunung besar yang menjulang tinggi bahwasannya gerak kulit bumi adalah takdir yang telah di tentukan Tuhan dan gunung-gunung besar yang menjulang tinggi tersebut mengambil peran penting dalam kepanikan makhluk lainnya. Namun, mereka kebanyakan tidak sadar akan hal tersebut, bahwasannya dari merekalah pintu kepanikan itu terjadi. Letusan gunung yang marah, aliran lava panas yang menangis dan asap-asap panas dari kesombongan dan keangkuhannya telah menjadi takdir, tapi dirinya malah mencipir mereka yang panik.
Gambaran ini adalah salah satu dari banyaknya kisah yang tak mungkin untuk diceritakan kepada generasi baru yang masih polos. Cukup menjadi sejarah betapa besarnya cermin tersebut dan betapa buruknya perilaku gunung-gunung besar tersebut. Biarlah para makhluk mati dalam kepanikannya dikarenakan Hukum Alam, biarlah arwahnya bergentayangan dalam mimpi kemarin yang berselimut keputus asaan. Tugas dari tunas-tunas baru adalah belajar, belajar dan belajar unuk menjadi tumbuhan yang hijau dan menjadikan tanah-tanah yang tertutup abu dari malapetaka kesombongan menjadi bagian surga kecil yang indah. Surga yang diharapkan menempati kejayaannya sampai dunia ini dalam artinya yang sesungguhya benar-benar berakhir.
Belajarlah dari sejarah dan janganlah mengulang sejarah sehingga menjadi fenomena De Javu bagi kalian yang menjadi penerus dari bangsa yang musnah. Biarlah cermin tersebut pecah dan tertinggal hanyalah bingkainya tetapi paling tidak belajar dari bingkai tersebut. Tanyakan kepadanya mengapa sampai sang cermin pecah? Apakah sang gunung besar tersebut sudah sangat gagah? Janganlah tiru kembali kejadian yang memiluhkan tersebut, putuslah mata rantai keterbelakangan tersebut, sambung dengan kisah baru yang punya dinamika yang dewasa dan luas, bukan menjadi dinamika yang payah dan sempit, dinamika yang menyempitkan ruang gerak dalam berfikir. Jadilah yang lebih dahsyat suara Alif nya, sehingga ia lurus tegak sampai ke surga.
Perlakukan anak tangga yang lebih atas dengan langkah yang baik, agar tidak jatuh. Sungguh anak tangga yang diatas tersebut tidaklah meminta dihargai oleh anak tangga dibawahnya dan bukan pula ingin dilihat. Namun tinggalkanlah anak tangga yang angkuh dengan posisi sejarah yang menjadi kartu keberuntungan awal dibandingkan dengan akhir. Bukan, bukan dan jangan berbuat seperti itu serta hindarilah. Jadilah diri sendiri walau bercermin dibanyak wajah yang unik-unik. Sesungguhnya yang bercermin hanyalah satu dan tidak dapat menjadi dua.
Hanyalah orang-orang yang mengerti akan jalan hidup dari sebuah kegelisahan yang telah terjadi dan berjalan kedepan, tak dapat ditahan walau masuk dalam barisan karena jika ditahanpun akan banyak bayangan-bayangan mimpi yang menyerupai suara sumbang angin topan yang meniup telingan dan menggoyahkan hati dan memutuskan asah. Hal tersebut akan berimbas pula pada tiap rel yang berderatan rapi sehingga rel-rel tersebut akan bercerai-berai dan membuas barisan-barisan sendiri. Jika hal tersebut terjadi, munculah episode terakhir dari Alif yang tak lurus dan berganti dan kata Wassalam.